2023 Panen Raya, INDEF Sayangkan jika Bulog Tetap Impor Beras

AED.OR.ID – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyayangkan solusi Badan Urusan Logistik (Bulog) apabila tetap melakukan impor beras. Mereka menilai impor beras hanya akan membuat harga di tingkat petani rendah, karena bulan Januari 2023 mendatang sejumlah daerah di Indonesia akan memasuki panen raya besar.

“Januari sudah mulai panen raya, walaupun tidak seluruh tempat. Apabila impor dilakukan, maka harga padi di tingkat petani akan jatuh. Ini yang saya khawatir. Justru petani banyak dirugikan karena harga akan jatuh,” ujar Direktur Eksekutif INDEF Ahmad Tauhid dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (28/11).

Read More

Menurut Tauhid, rata-rata serapan Bulog selama ini terbilang rendah. Bulan Januari misalnya hanya mampu diserap 8.000 ton dan paling tinggi terjadi di bulan April dengan serapan 200.000 ton lalu terus turun jadi 138 pada bulan Juni dan di bulan November hanya sekitar 93.000 ton.

“Kalau saya lihat memang masalahnya pada saat panen raya kemarin. Di bulan April, Mei sampai Juni itu pengadaannya tidak maksimal sehingga jumlahnya tidak memenuhi yang diisyaratkan. Harusnya Bulog bisa menyerap lebih banyak tapi realisasinya jauh lebih sedikit,” katanya.

Tauhid mengatakan, apabila melihat data yang ada, realisasi ketahanan pangan dari sisi masyarakat relatif baik. Misalnya beras di masyarakat itu masih ada sekitar 3,3 juta ton, di mana beras di masyarakat 1,48 ton, di penggilingan 800.000 ton, di pedagang 600.000 ton, di horeka (hotel, restoran, kafe, Red) 300.000 ton dan di Pasar Induk Cipinang sekitar 40.000 ton.

“Jadi menurut saya masih relatif aman. Jadi tidak perlu melakukan impor karena kuota kita masih ada,” katanya.

Saat ditanya terkait beda data anatara Bapanas, Bulog dan Kementan, Tauhid hanya mengatakan perlunya komunikasi yang baik antar instansi pemerintah. Dia yakin, data yang ada selama ini adalah data tunggal yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Memang harus ngopi bareng karena data yang ada ini sebenarnya data tunggal. Komunikasi perlu ditingkatkan karena ada hal yang jauh lebih penting yaitu menjaga inflasi,” jelasnya.



Sumber: www.jawapos.com

Related posts